February 19, 2010

Listen

When I ask you to listen to me
And you start giving advice,
You have not done what I asked.
When I ask you to listen to me and
you begin to tell me why I shouldn’t feel that way,
you are trampling on my feelings.
When I ask you to listen to me
and you feel you have To do something to solve my problems
you have Failed me, strange as that may seem.
Listen, All I asked was that you listen – Not talk or do, Just hear me.
~Ralph Roughton, M.D.
Banyak yang berpikir bahwa "mendengarkan" hanyalah aktivitas bagi telinga untuk menangkap suara-suara yang ada di sekitarnya. Padahal, jika hanya menangkap suara, maka telinga hanyalah mendengar. Sedangkan "mendengarkan" merupakan kegiatan yang jauh lebih rumit dari itu. Mendengarkan merupakan seni, seni untuk mendengar menggunakan telinga, mata, dan hati.


Saya jadi ingat. Berdasarkan pengalaman pribadi niy, seringkali, ketika seorang teman mendatangi kita dengan curhatannya. Apa yang kita lakukan? Biasanya ketika curhatannya berkaitan dengan seseorang (boss, teman, dll), kita pasti akan langsung dengan seru menyambut curhatannya. Bagaikan tukang sate yang dengan semangat mengipasi bara api. Lain lagi dengan curhatan tentang masalah pekerjaan kantor, sekolah, atau ketidakpuasan-ketidakpuasan lainnya, pasti kita akan langsung menjawabnya dengan nasihat-nasihat, contoh pengalaman pribadi, atau solusi-solusi yang menurut kita harus dilakukan. Ketika seseorang datang ke depan muka kita, dengan emosi yang meluap-luap, pasti kita akan mengkalikan luapan-luapan emosi itu hingga jadi puting beliung emosi.
Dan setelah saya pikir-pikir. Mungkin.. *mungkin loh ya.. mungkin..* jika kita meluangkan sedikit waktu dan meredakan secuil emosi untuk mencoba mendengarkan, mungkin tidak terlalu banyak orang di sekeliling kita yang akan merasa sengsara. Yang selalu putus-nyambung-putus-nyambung *seperti lagu yang terkenal itu* sama pacarnya, yang tau2 hengkang dari pekerjaannya yang mapan, atau mungkin serta merta memutuskan tali silaturahmi sama kita.



It's called empathical listening, atau bahasa tanah airnya mendengarkan dengan empati. Ini adalah keterampilan baru yang sedang saya coba untuk saya terapkan. Yah sebetulnya empathical listening bukan sebuah bentuk keterampilan tapi lebih kepada sikap kita ketika mendengarkan orang lain bicara. Ketika seseorang meminta untuk didengar, kita tidak perlu menyediakan segudang nasihat, atau kata2 penghibur *seperti yang biasa kita lakukan*. Yang perlu kita lakukan hanyalah, mendengar, mencerna, kemudian merefleksikan kembali kata2 mereka dengan kata2 kita sendiri. Dengan melakukan ini kita memahami apa yang ingin mereka sampaikan, what they want us to understand. As we listen, and our tongue does not deafened us so much..

it's an art to hear with your heart..

2 Comments:

raeArani said...

hahaha...
gua dari dulu gitu kok, may. cuma mendengarkan. tapi yang ada temen gua malah sewot karena nyangka gua gak dengerin dia.

pas gua bisa ngulangin ucapin dia word by word, eh dia malah diem. gak mau cerita lagi.
:hammer:

MaYaNG's said...

ye..bukan ngulangin ucapan word by word kali. tapi mengulang apa yang dia katakan dengan kata2 lo sendiri. contoh:
A: gue mau putus, pacar gue nyebelin
rae menjawab: gue rasa lu lagi marah sama pacar lu niy??
gitu..
lagian gue tau, lo mraktekin empathical listening sama temen lo yang lagi jualan MLM kan?? hahahaha..

 

Fioritura Fiori Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template