





tout a ses beautés, mais tout le monde ne voit






It started as any usual about-to-go-to-research day of my life. Biasa sedikit jumpy dan terburu-buru mempersiapkan what to bring, what to be fixed, dan what to do. Berhubung hari ini gue berniat melakukan formula dengan bahan baku kacang hijau, gue harus mem-blender ntu kacang hijau dulu di-kost-an. Cuci heater, cuci blender, masukkan air ke dalam heater, colok stekernya, biarkan hingga air mendidih. Ketika air mendidih gue masukkan 300 gram kacang hijau kupas yang baru dibeli di H*** sehari sebelumnya (sumpe harganya mahal banget, 1:4 sama kacang hijau biasa). Hari ini hari pertama menggunakan kacang hijau kupas, karena penggunaan kacang hijau biasa ternyata gak cocok untuk biskuit. Berdasarkan pengalaman, kacang hijau direbus selama 30 menit biar empuk. Daripada waktu terbuang sia-sia tu kerjaan gue tinggal mandi dulu.
Pas gue mau keluar kamar mandi, tiba-tiba lampu mati. Diikuti oleh teriakan anak2 se-kost plus gerundelan abah kost-an ‘makanya pake listrik jangan bla..bla..bla....’. Hati gue pun turut berkecamuk. Menghitung-hitung kira-kira sudah berapa lama gue merebus kacang hijau, gimana caranya gue nge-blender tu bahan, pokoknya persiapan plan B. Gue keluar kamar mandi, loh kok yang mati lampu cuma beberapa kamar aja ya (termasuk kamar gue). O....ternyata jeglok, hm....ada apa ya?!?!?! Yah setidaknya gue berpikir positif masih bisa lah numpang kamar orang.
Ternyata begitu gue masuk kamar gue. Ada bau-bau gosong dan kebakar. Semakin curiga. Oh no... jangan-jangan....degdeg..degdeg... perasaan bersalah pun mulai menggantikan hati yang berkecamuk. Melangkah semakin jauh ke dalam kamar gue pun melihat bukti nyata di lantai kamar gue dengan mata kepala sendiri. Bekas semburan air yang nyaris membasahi delapan petak ubin, serta ceceran-ceceran kacang hijau di sana-sini. It’s like stepping into a war zone –lebih lengkap kalo disertai dengan soundtrack film Jaws-.
Kalo lo masih belum bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi sampai detik, let me tell you directly. Heater gue bleduk alias meledak. Belum selesai memikirkan apa yang harus gue lakukan selanjutnya dengan persiapan penelitian hari ini gue harus buru-buru buka jendela lebar-lebar dan sibuk mengibakan asap keluar kamar. If there is something I learn from what happen today, it would be ‘NEVER EVER boil anything in a heater other than water’. Percaya deh, gue masih untung, cuma bledug dikit terus mati lampu (FYI setelah 10 menit lampu menyala kembali, untungnya, kalo gak I’ve got a confession to make). Nah kalo misalkan gak cuma bledug, malah jadi kebakaran, lo mau tanggung jawab gimana coba, ya kan.
Well, kids!! Don’t try this at home!!!
Originally posted on April 13, 2007
Tepat dua malam yang lalu, di saat lelah-lelahnya gue setelah membuat cookies tragedi itu terulang kembali. Saking cape otak-fisik-dan-batinnya gue sudah mengistirahatkan mata jam 8 malam. Seperti biasa lupa kunci pintu, lupa tutup jendela, dan lupa gosok gigi. Tiba-tiba jam 11 malam ada teriakan-teriakan ’ba....ba....ba...’ gak putus2, dan gue denger anak kamar sebelah mukul2in teralis jendela, disertai situasi cuaca yang mendukung (udara dingin, angin berhembus kencang, suara hujan rintik2, serta sediki geledek). Pokoknya gue terjaga dari tidur nyenyak gue, berasa di film-film horor akibat segala efek keributan di tambah lagi gorden jendela gue melambai2 di tiup angin. Serasa flash back, teringat kejadian hampir setahun yang lalu, dimana maling merambah kos-an gue, ributnya persis sama cuma yang ini gak pake bangunin tukang ngronda.
Sebetulnya gue pengen nanya2 sama anak kos-an ada apa siy??? Tapi begitu keluar kamar, ternyata semua orang udah masuk kamar masing-masing dan mematikan lampu. Dengan hati berdebar-debar gue buru-buru melindungi diri (siapa tau si sumber suara ini ternyata berbahaya) double lock pintu, tutup jendela rapat-rapat, dan tutup gorden erat-erat. Malam itu jadi malam paling panjang dalam hidup gue. Antara penasaran dan ketakutan sampe-sampe terbawa mimpi (liat orang gila di depan jendela gue pas mau nutup jendela).
Suara yang terdengar itu rancu, kadang kaya’ manusia kadang gak kaya’ manusia. Kalo pas gue mikir itu kaya’nya suara orang, gue cuma berharap moga2 tu orang gak ngapa2in. Kalo suaranya mulai terdengar kaya’ kambing gue cuma mikir, tetangga gue kurang ajar banget nge-drop kambing kok malem-malem.
Selang berapa hari gue baru inget lagi tragedi-malam-hari itu. Gue tanya ke anak2 ’itu suara apa yang bikin kita gak tidur semaleman’, ternyata ada orang gila ngendon di teras kos-an gue, trus dia ngoceh sampe subuh –sebelum akhirnya diusir sama orang2 kampung-. Hadoh!!! Kaya’nya ini menambah daftar panjang tragedi gue dengan para stresser. Seriously bukannya gue mau mengucilkan atau apa, tetapi bukankah lebih baik mereka ditempatkan di mana mereka seharusnya berada. Supaya tidak meneror dan mengganggu orang lain gitu. Hehehe.....
Originally posted on March 8, 2007
Pertama kali bergabung tepat setahun yang lalu. Karena ajakan seorang teman yang menaruh kepercayaan terlalu besar sama gue (sumpah sekarang kaya’nya dia nyesel2 ngajak gue). Sebetulnya dia udah ngajak dari tingkat 2 tapi karena kesibukkan yang gak bisa di-nomor-dua-kan terpaksa berkali2 menolak tawaran. Akhirnya begitu kesempatan datang lagi di saat yang tepat, knapa gak....
Ternyata menyenangkan ikut PaDus FATETA, karena keberadaan kita murni karena kita suka untuk berada di situ. Bukan untuk mengejar prestise, duit, makan siang gratis, dan berbagai embel2 yang ada di belakangnya. Mau kita ber-lima, ber-sepuluh, atau bahkan ber-dua puluh, saatnya LLS kita pasti nyanyi (jadi kepikiran, jangan2 sebetulnya fakultas dah gak mau nyewa kita lagi?!?!). Yang paling penting adalah kita latihan karena kita ingin menampilkan yang terbaik. Gak ada peraturan yang terlalu mengikat, cth denda, sangsi, kontrak.
Well, today might be the last day to sing along song with you. I hope this could last forever, but I never want to be seating on the westwing seat forever. In times I’ll be seating on the center seat, enjoying the ceremony with friends whom I shared the last four years of tears and thrill. Walking down the stage as my name were called, shaked the dean’s hands, received a plaque, and get that rope on my hat moved.
Today could be the last day. Thank you for taking me in to the circle and showing me it’s such bliss to sing.
Masa perkuliahan, adalah masa di mana lo membuka mata lo. Iya, kalo jaman dulu kita melakukan sesuatu dengan tulus, di masa2 lo menjadi mahasiswa bisa jadi satu tetes keringat pun akan lo hitung dan dianggap hutang. Memang gak bisa dipungkiri nilai uang menjadi lebih berharga selama masa kuliah. Gimana gak, kemungkinan kantong kering di tengah bulan atau tengah minggu lebih mungkin terjadi di masa kuliah. Makanya kadang2 mahasiswa belajar korupsi kecil-kecilan dengan dalih biaya ganti tenaga. Contohnya niy, waktu jaman2nya fotokopian 75 perak. Kalo ada fotokopian handout yang dikoordinir oleh kelas, orang yang ketempuan buat memfotokopi pasti langsung matok harga cepe. Atau kalau misalkan fotokopian berharga 125 langsung dibulatkan ke 200.
Nah cerita selanjutnya adalah cerita temen gue. Iya, temen gue yang satu ini emang terkenal sebagai seksi dana dan usaha paling yahud. Di mana ada duit pasti ada dia. Percaya deh sampah pun bisa dijual sama dia. Kita sebut aja nama dia si A.
Oke, jadi mulai semester ini di kampus gue diwajibkan pembayaran SPP melalui auto debet. Tiap mahasiswa yang tidak melakukan pembayaran SPP melalui auto debet akan dikenakan denda sebesar 10%. Mengingat besarnya denda yang harus ditanggung mau gak mau semua orang langsung nge-cek saldo. Dan seperti mahasiswa lain yang punya account cuma buat bayar SPP, saldo si A ini bisa dibilang nyaris Rp 0,-. Jadi dia minta duitlah sama ibunya untuk bayar SPP. IPB adalah salah satu universitas yang punya iuran SPP yang rendah (hanya Rp 750.000,- bandingkan dengan universitas2 lain). Si A ini pun dibekali 1 juta rupiah untuk mengisi account bank nya. Mungkin insting money-money-money-nya terlalu kuat, atau mungkin memang iman dia gak kuat (hehe), jadinya yang dimasukkan ke dalam account pun pas untuk bayar SPP. Kemana sisa uang itu pergi?? Katanya siy dia gunakan untuk membeli baju buat audisi idol.
Si A kurang beruntung. Si A salah hitung. Dia gak memperhitungkan bahwa sebelum hari H auto debet, terlebih dahulu ada jatuh tempo pajak. Pas dia nge-cek ternyata duitnya tidak terdebet secara automatis. Dan setelah diusut punya usut, ternyata setelah dipotong pajak saldo dia tinggal Rp 749.815. Menurut tukang debet, saldo dia kurang, makanya gak didebet. Yups. Akhirnya si A ini pun terpaksa mengeluarkan 75.000 rupiah ekstra karena duitnya kurang 185 perak.
Selain tertawa terbahak-bahak gue bilang sama dia, makanya punya duit lebih jangan langsung dipake buat hura-hura. Amanahnya kan masuk saldo bank, malah jadi baju buat audisi idol. Mungkin si A ini adalah orang-orang yang masih dilindungi. Knapa gue bilang gitu, karena setidaknya dia masih diperingati. Yah, gue gak tau apakah setelah ini dia tobat jadi money-oriented atau gak. Soalnya sifatnya yang satu itu udah mendarah daging. Tapi setidaknya, moga-moga di masa yang akan datang, he’ll think twice before doin’ that thing again.
Originally posted on February 25, 2007
Kira2 10 hari yang lalu. Waktu itu gue lagi capek2nya abis pulang makrab. Berhubung gue termasuk orang2 kloter II, jadi gue pulang agak belakangan dari temen2 yang lainnya. Nyampe
kemaren baru aja makrab bareng TINers 40 di Cibodas. siapa sangka yang dateng nyaris satu angkatan. bahkan ada guest star kita yang satu itu tu. semakin menyadari bahwa we're running out of time...FAST!! gak akan pernah lupa, serunya karaokean, games yang gila, bergaya di curug, nonton video TIN (created by Mayang, Detri,
sore2 di villa
BERMAIN BERSAMA DI CURUG CIISMUN
serasa ditampol, ketika kakaknya temen g bilang. yah masalah itu ada, lo gak bisa lari, udah hadapin aja. emang bener siy, karena setelah dihadapin ternyata, qta masih hidup kok. ternyata we're not torn into pieces. yah walaupun proses PL belum beres 100% (masih ada laporan dan urusan biokrasi lainnya). tapi the hardest part has been through, and we're OK.
feels like yesterday, lari tunggang langgang di pinggiran kebon tebu gara2 takut gelap, kembang kempis ditanya sama bapak M, gondok setengah idup sama tragedi TV, berpeluh2 buat nyari makan, internet, dan angkot, mandi dengan cahaya senter. and so on... setelah diliat2 emang itu sepele banget. dan mungkin memang g yang terlalu dimanja. terbiasa dengan fasilitas super komplit.
para pejuang PKL gorang gareng. qta lagi di rumah temen, yang udah banyak nolongin qta di
jadi inti dari ceritanyah...ehm..ehm.. all's bad doesn't always ends bad. terngiang-ngiang quote dari bapak Coelho lagi. sebelum mimpi bisa terwujud, jiwa dunia menguji segala sesuatu yang telah kita pelajari sepanjang jalan. Bukan karena dia jahat, melainkan agar selain mewujudkan impian-impian kita, kita juga menguasai pelajaran-pelajaran yang kita peroleh dalam proses mewujudkan impian-impian itu
don't know if i pass the test really good, all i know is i survive the test. and for now it is good enough for me...
Originally posted on August 24, 2006
in memory of Pejuang Gorang Gareng, wouldn't made it this far without you guys
phiuh....akhirnya...
setelah dua minggu bener2 berada di luar peredaran dunia maya, gue masuk lagi ke dalam sistem.
knapa bisa gitu siy??jadi demi PL yang setara sama 3 SKS, g plus tiga temen g (idesh aka bu nyai, umi aka um-um, amet aka mas tri) harus dikirim ke magetan desa gorang gareng (bingung
mungkin terbiasa di
sumpe deh kangen rumah banget. tiap malem gue jalan ke pasar dulu (nyaris 1 kilo) buat beli makanan. haha bgitu pulang laper lagi. weikz...
setelah
akhirnya masalah orang stress terlewati. tapi muncul masalah baru. rupanya di ruang TV ada mahluk aneh. nah mahluk ini suka lewat jam 11-an gitu. kecil jalannya cepet. yang ngeliat pertama kali umi. tapi gak teridentifikasi. yang ngeliat ke-dua, idesh. kata dia kaki seribu..tapi kaki seribu jalannya gak cepet. pikir punya pikir jangan2 kelabang. hah!!! sampe sekarang gue masih parno kalo duduk di depan ruang TV malem2.
walaupun tanpa fasilitas. gue fine2 aja di tempat PL. kita bener2 dilepas. jadi suka2 eluh mau ngapain gitu. yang penting ntar ditanya bisa. hehehe. mana gue gak ngambil 'pati gula' jadi paling tablo gitu deh.
oiya...baru dapet kabar. ternyata salah satu temen gue dari SMP ada yang meninggal. wuih sampe merinding dengernya. mana gue dapet kabarnya malem2 lagi. gak habis pikir gue, bahwa ada temen gue yang punya hidup begitu singkat. mungkin ini salah satu cara untuk menegur kita. bahwa umur itu yang tau cuma Allah. well..buat sarah wherever you are, may god bless you always.
sebetulnya banyaaaak banget yang mau diceritain. rasanya tiap hari di sini itu terasa beda. seperti selalu ada pengalaman baru. ketika lo merasa this day really sucks, tapi selalu ada harapan baru lagi yang tumbuh. mungkin 40 hari di sini bakal terasa kaya' perjalanan panjang (iyalah orang gue mau nge-net aja musti ke Madiun-30 menit dari sini). tapi gue yakin kalo apapun yang gue dapetin disini, bakal gue inget terus. dan mungkin jadi pembelajaran buat gue, untuk menjadi mayang yang lebih tangguh. 'coz this is really2 way out of my comfort zone.
jadi....mohon doanya!!!!
ps. buat tinners40 yang lain. sukses PLnya. jangan suka ngedumel dan ngeluh. jalanin semua tanpa peluh. have fun aja bro.
buat anak PR...maaf2 kalo gue gak bisa ikut cyber meeting. perjuangannya berat bo..disini jam 3 sore udah gak ada angkot balik ke magetan, sori ya...
Originally posted on July 14, 2006
Masih terbayang sama gue, apa yang terjadi tepatnya setahun yang lalu. Ketika pertama kalinya gue belajar bahwa inilah cara debate yang benar. Debate Australian style atau apa..gitu, dimana kita gak cuma debat kusir, dimana motionnya jelas, dimana aturan main pun sangat2 jelas. Knapa belajar debate?? Simply because of D3, yang ngajakin gue buat ikut English debate competition. Motivasi D3 pun juga sederhana, dia cuma bilang “ayo dong kita Ternyata belajar debat secara intensif, (walaupun lebih banyak gosipnya) dan banyak mencari data pendukung, gak menjamin performance gue bakalan bagus. Uh pas competition itu, rasanya gue eneg banget, capek, desperado, and under a lot of pressure. Rasanya apapun yang gue bicarakan itu nonsense, argument gue mudah dipatahkan, dan bodohnya gue gak bisa menyanggah lawan gue. Rasanya yang diomongin mereka bener juga ya…bener juga ya. Berdasarkan pengalaman itu, gue pun memutuskan NO MORE DEBATING COMPETITION. I’M SO FED UP!!!! Gue gak mau lagi ngrasain under pressure yang begitu besarnya, nyaris bikin gue emotional break down.
However fate does not agree with me. Ternyata tahun ini gue diharuskan, ditempatkan sedemikian rupa dalam keadaan terjepit, sehingga gue harus ikut debating competition LAGI. Huh melelahkan, dan mendebarkan. Baru kebentuk timnya 2 hari sebelum lomba, nyari bahan sehari sebelum lomba (bahkan gue tidak mencari bahan apa2 cuma kedua temen tim gue yang nyari), latihan 1 jam sebelum registrasi. Benar2 tim yang kacau. Tapi gue punya sedikit harapan, mungkin kali ini gue bisa menang, setidaknya jadi octofinalist karena peserta cuma ada 10 departemen
Gue harus berterima kasih banyak sama kedua partner gue. They’re helping me in making my dreams come true. Dibandingin mereka berdua, gue sadar banget gue gak punya pengalaman. (Iyalah piala debat mereka berdua
Bottom line is, jangan pernah menganggap diri lo gak mampu untuk melakukan suatu hal. Dan jangan pernah berhenti untuk mencoba. Karena apa yang pertama kali gue anggap sangat menyebalkan bikin gue kapok, ternyata berubah menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Masih tersisa di otak dan hati gue, gimana rasanya deg2an itu sebelum menyampaikan what’s on my mind. Masih terasa aliran adrenalin ketika gue ingin menekankan sesuatu, atau mendapatkan bantahan, atau bahkan hanya menggertak lawan. Masih kerasa pula gimana mati-matiannya kita mempertahankan argumen-argumen kita.
Menjadi manusia baru, tidak menganggap remeh diri sendiri, dan yang paling penting kita bisa asal kita mau.
-26032006-
Originally posted on March 30, 2006
Neways g lagi gak pengen ngomongin the assistant yang kaya’ gitu. Jadi ceritanya akhir2 ini g lagi sibuk (cuih!!) Yah gak sibuk2 amat siy, sekedar mengisi waktu luang gue diantara 17 SKS yang diambil semester ini. Daripada gue gak ngapa2in mending jadi asisten
-05092005-
When everything don't turn out well, just believe that God has a more beautiful plan for you.
Satu hal yang akhir2 ini gue pelajari adalah team work. Selama ini kalo ada tugas yang musti dikerjain team biasanya anak2 langsung bagi2 tugas aja. lo cari tinpus, lo ngetik pembahasan, bla..bla..bla.. Padahal harusnya kan tugas itu dikerjain bareng, yah walaupun emang ada pembagian tugas tapi setidaknya lo harus kumpul dan mendiskusikan apa yang harus dilakukan biar kerja satu tim jadi bagus. Istilahnya siy ada brainstromingnya gitu. harapan gue tim gue bisa jadi tim yang solid. mungkin kita emang buta tentang banyak hal. tapi gue yakin kita adalah survivor yang tangguh, dan pasti mau belajar biar bisa bertahan. setidaknya dengan ada teman berbagi beban yang kita rasain jadi lebih ringan. yak tul?!?!
originally posted on September 16, 2005
in memory of Tim SIM ceria
Fioritura Fiori Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template